with love,
tiffani
|
who love you very much
|
with love,
tiffani |
|
h o m e moi
1998 -
credits.
| posted on Dec 6, 2012 @ 21:32 // 0 comment(s) |
'Den Adin cepetan le, mami dah nunggu lho'
'Bentar mbok aku belum nata buku, masih pagi ini' Pagi yang nyaris selalu seperti ini. Di rumah megah Adindra. Lelaki yang sangat menyayangi ibunya, dan kekasihnya. Fani. 'Fan cepet bapak praktek jam 7 kok belum siap jam segini' 'Ya ini aku dah cepet pak, masih jam segini ini tu' Pagi yang berbeda di rumah yang berbeda pula. Rumah sederhana, namun hangat. Perempuan yang masih dibilang remaja, labil. Fani memang belum sedewasa Adin.
***
'Pagi Adin!' Sapanya penuh semangat memasuki gerbang sekolah. Dengan tas ransel coklat dan rambut yang sedikit berantakan itu. Nyaris setiap hari.
'Halo, hari ini aku ga bisa anter pulang ya, aku dianter mama nih', jawab Adin santai sambil menggandeng tangan Fani. Namun aneh, kali ini tangannya terasa dingin.
'Mama? Siapa? Mami kaleeee',ejek Fani lalu berlari ke dalam kelas, meninggalkannya sendiri di lorong sekolah. Adin menatap khas. Mata sayu, setengah terbuka dan alis tebal yang naik setengah.
'BERCANDA LHO!!!!!', teriak Fani sangat-amat-keras. Adin mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang.
Hari ini mereka duduk bersebelahan, karena teman sebangku Fani --Sekar-- sedang sakit.
Pelajaran berlalu begitu cepat. Tak seperti biasanya. Fani terbiasa tidur di kelas, menggambar sesuatu di buku sketsanya dan memainkan pulpen. Ia harus memperhatikan guru, mencatat materi dan sama sekali tidak tertidur. Kau tahu, Adin anak yang rajin.
Waktu itu Fani nyaris tertidur, bahkan kepalanya yang terasa berat secara spontan bersandar di bahu Adin. 'Fan jangan tidur, Miss Indri ngeliatin kamu Fan'
'Aku dah bisa materi ini, dah diajarin di les. Aku ngantuk banget nih'
'Fan please jangan tidur sekarang'
'Ya ampun Adin aku baru tidur jam 1 kemarin, nganvas hehe'
'Aku traktir nasi kuning pulang sekolah'
Fani duduk tegap. Menatap sinis Adin dan mengacungkan jari kelingking. Janji jari kelingking hari ini: Adin menraktir Fani sepulang sekolah.
Dan kalian tahu? Sepanjang pelajaran, mereka berpegangan tangan. Di bawah meja. Selalu.
Kenapa hari ini tanganmu dingin, sayang?
Bel pulang sekolah berbunyi. Fani sibuk membereskan krayonnya yang berserakan di meja.
Pertanyaan yang tak sempat ditanyakan Adin kepada pacarnya. Yang amat sangat disayanginya.
***
'Gini dong tiap hari, masa nraktir kalo karah taruhan sama janji tadi doang Din hahaha', suara Fani terdengar bersahabat. Dia lucu, tak pernah jaim. Adin belum pernah bertemu perempuan se 'loss' ini. Dia sangat menyayanginya.
Suatu hari Adin pernah sakit demam gara-gara ia meminjamkan jaketnya untuk Fani.
Mereka pulang sekolah dan kehujanan, tanpa jas hujan. Fani tak pernah memakai jaket, ia selalu terlihat sehat. Bersemangat, riang, heboh. Adin selalu memakai jaket. Ia tak sakit, Fani yang menyuruhnya. Karena ia juga mencintai Adin. Sangat. Mode on cerewetnya tak bisa di-stop kalau Adin tak memakai jaket saat naik motor. Mungkin karena Adin terbiasa memakai jaket dan saat itu ia kehujanan tanpa jaket, ia demam. Fani menjenguknya di rumah. Dan kalian harus tahu, saking panik dan mendadak-nya ia tahu, Fani tak bergantu baju. Ia memakai kaos rumah dan celana pendeknya, memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi.
'Aku males aja Fan, pengen cepetan sampe rumah, tidur', jawab Adin polos. Dia menatap dalam mata Fani. Seakan ada sesuatu yang harus ia ketahui, tak tahu apa.
Sore itu terasa indah untuk Fani dan misterius untuk Adin.
***
'Nak minum obatnya dulu sini. Dah ibu belikan'
'Males bu, Fani lagi belajar'
Ibunya memasuki kamar Fani. Tak mau diceramahi, Fani minum obat. Pahit.
Malam itu sakitnya kambuh lagi, maag. Akut. Ia muntah darah. Untung saja kamar mandi terhubung langsung dengan kamarnya. Darah itu mengenai bajunya, lantai kamar mandinya, wastafelnya. Namun Fani yang selalu ceria itu tak ingin merepotkan orang tuanya, ia tak mengatakan kejadian itu.
Fani tidur tidak nyenyak, mengerang kesakitan.
***
'Mi, aku besok jemput Fani ya, jadi mobilnya aku pake'
'Yang mana Din? Mami pake city ya, diantar Pak Mud'
'Camry miiiiiiii, boleh ya miiiiiii pleaseeeee, besok aku anniv 4 tahun sama Fani miiiiiiiiiiii'
Ibunya mengangguk dan tersenyum simpul. Anak lelakinya sudah tumbuh dewasa dan mencintai orang yang tak salah. Beliau percaya kepada Fani.
***
'Fani berangkat dulu ya Pak. Aku bareng Adin'
'Ya, ati-ati nduk'
Fani merampas sarapannya. Ia mencium tangan kedua orang tuanya dan mencium kening adiknya.
'Fan kamu kenapa?', tanya Adin serius.
'Nggak papa tuh, ada yang salah? Aku nggak bad hair day Adiiiiinnn, aku dah mandi sewangi ini untuk hari jadi kita. Kamu bilang ada yang salah?', jawab Fani. Pura-pura tak mengetahui apa yang terjadi padanya. Pagi itu masih pusing, perutnyapun masih sakit. Untungnya tak sesakit kemarin malam.
'Kamu sakit? Maag kamu kambuh lagi? Kamu pucet Fan.', jawab Adin lebih serius. Ia merasa aneh, ia tak mau mengantar Fani ke sekolah. Feel nya hanya rumah sakit.
Dulu ia pernah mengantar Fani dan Adin sudah kenal betul dengan dokter langganan Fani.
'Fan?' tanya Adin lembut. Ia mengelus rambut Fani.
Crap, rambutku rontok lagi. Umpat Fani dalam hati. Ia tak tahu harus menjawab apa. Adin pasti tahu ia sedang sakit.
'Aku nggak apa-apa din, serius deh. Hari ini kan kita mau makan, kamu ingat kan? Aku ga mau rusak hari ini cuma karna sakit din.' Shit. Keceplosan. Fani sakit.
Sekar belum masuk sekolah hari ini, mereka duduk berdua lagi. Adin tak melepas tangan Fani yang dingin. Ia merasa tertusuk. Ia tak mau Fani sakit.
Jam ke 4. Adin mendengar rintihan Fani.
Miris rasanya, berada disebelah orang yang kau cintai. Yang kau genggam tangannya, namun kau mendengar rintihan sakit. Bukan tawa bahagia dan tatapan yang biasanya.
'Fan, mau ke UKS? Kamu pucet. Aku tungguin, ya?', ucap Adin lembut.
'Aku nggak apa-apa Din. Nyatet sana, kamu belum nyatet seharian ini.'
'Sekarang ke UKS ya?'
'Gak mauououo'
'Istirahat ke UKS, ga pake tapi. Aku sayang kamu'
Fani diam. Membatu. Kalian juga perlu tahu, Fani gampang luluh.
***
'Aku nggak apa-apa Din..' Detik itu juga. Darah. Muntah. Banyak.
'FAN! KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG. AKU YANG IJIN GURU PIKET'
***
'Adin, aku mau pulang aja... Aku nggak apa-apa. Aku mau istirahat di rumah Din.', Fani berkata lemah. Aku ga mau ngerepotin kamu. Dan yang terpenting adalah aku ga mau kamu tau aku kenapa.
Tangan dingin Fani mengelus lembut tangan Adin yang menyetir mobil dengan cemas. Adin tertusuk lagi.
'Kamu itu sakit, aku dah ijinin guru piket kita ke rumah sakit sekarang. Bukan pulang. Aku tau kamu sakit Fan.'
'Aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku bentar lagi sembuh Din...'
'Jelas-jelas kamu muntah darah di UKS. Mau bilang apa mamiku kalau tahu aku biarin kamu gini Fan?'
'Aku yang minta buat pulang Din...'
Adin teriris. Tertusuk. Suara Fani yang tak pernah didengarnya. Begitu lemah dan pelan.
Muntah lagi. Darah.
Fani muntah lagi.
Aku nggak tahan. Kenapa harus muntah disini sih Fan. Aku benci penyakit ini. Holy crap.
'Fan, bentar lagi sampe. Tahan ya, aku nungguin kamu Fan.', Adin berkata dengan nada cemas.
'Astaga maaf banget. Aku ga tau kenapa bisa muntah disini, Adin maaf ya. Ntar aku bayarin cuci mobil. Maaf banget banget. Apa lagi ini mobil mami mu. Aku ga sengaja Din, aku yang akan bilang mami mu', jawab Fani, tak jelas. Ia sibuk mengelap darahnya dengan seragam. Giginya merah.
***
BERSAMBUNG! Maaf ya cerpen kaga selesai. Maksudku belom.
Duh kalimatnya biasa banget ya? Aku bikin ini sambil nunggu Parell les. Dan aku selesai nulis ini pas banget Parell sms. Aku menerima masukan dan kritik lhoooooo komen ya!!!! :-*
|