with love,
tiffani
|
who love you very much
|
with love,
tiffani |
|
h o m e moi
1998 -
credits.
| ❝ Sedikit. ❞
posted on Jan 25, 2013 @ 17:26 // 0 comment(s) |
Hujan. Dingin menusuk ragaku. Menghujam perasaanku yang telah retak dan menghancurkannya menjadi titik-titik air mata kesedihan.
Siapa yang tak punya kisah cintanya sendiri? Entah itu yang telah kandas, hanya sekedar bullshit atau mereka yang 'merasa' cintanya 'tak akan pernah mati', meski itu hanya kefanaan belaka. Dan ceritaku memang rancu, entah kisah yang mana. Entah rasa yang mana. Pahitkah? Maniskah? Setidaknya pahit dan manis adalah rasa yang nyata. Bukan seperti kopi yang diberi krimer. Manis, namun palsu. Rindu. Amat dalam. Kau tau? Aku memang sering marah. Aku sering bosan, malas, tidak terima. Aku memang seperti ini. Namun aku benar-benar masih mencintaimu. Kau ingat malam itu saat kita berselisih? Aku telah berbohong. Aku memang selalu berkata aku 'baik-baik saja' atau saat aku berkata aku marah. Aku bohong. Itu semua bualan. Jadi sebenarnya apa yang sedang kulakukan? Apa aku terlalu cengeng untuk mengangis, atau aku begitu sadis hingga aku sadar aku merasa tak diinginkan lalu memilih pergi menjauh? Sayangnya, aku memilih yang pertama. Aku terlalu cengeng. Semua kebohonganku, kata-kata aku baik, aku marah, atau bahkan aku membencimu. Itu hanya omongan kasarku, amat kasar. Dan sekali lagi, itu benar-benar hanya omongan. Saat itu juga, hatiku berteriak. Ia memanggil kembali memori kita berdua. Dimana kau menjemputku, dimana kita berpegangan tangan begitu erat, dimana kita saling rindu satu sama lain. Aku mengangis. Aku tak sungguh-sungguh membencimu. Mungkin dalam beberapa waktu aku memang marah, namun kau tak akan percaya aku menangis dalam amarahku. Aku berusaha tak membuatmu khawatir. Sampai dimana aku merasa aku tak sanggup berpura-pura. Aku tak ingin terbelenggu oleh penjara yang kubuat sendiri. Aku ingin kita, sepasang 'kekasih' yang benar-benar rancu, random, aneh ini-- bisa hidup dalam sebuah gelembung. Transparan. Tapi maaf, sekali lagi, aku berbohong soal aku benci padamu, yang kukatakan dulu sekali. Aku marah, mengapa aku bisa begitu terpikat padamu? Apa yang kau lakukan sehingga aku begitu rindu, begitu ingin bersamamu. Aku ingin hangat yang seperti dulu. Kau tahu? Aku benci mengatakan ini disini. Namun aku begitu merindukanmu. |