with love,
tiffani
|
who love you very much
|
with love,
tiffani |
|
h o m e moi
1998 -
credits.
| ❝ Belajar ❞
posted on Dec 25, 2013 @ 23:26 // 0 comment(s) |
Masih terdiam dalam elegi. Bagaikan puisi romansa yang tidak ada intinya, karena empunya hanya membual. Atau puisi dalam cerita, tetapi tak jelas maknanya. Tak jelas arah dan tujuannya, tak jelas mencintai siapa, tak jelas dicintai siapa dan tak yakin harus mencitai dan dicintai siapa.
Hari sebelumnya pun tak lebih baik dari ini, dan setidaknya hari ini yang lebih buruk. Aku tak sendiri, tapi merasa sendiri. Merasa terasingkan, terkucilkan, terbuang dan hina. Dulu aku mawarmu, yang kau cintai dan kau lindungi. Sekarang aku masih mawarmu, tapi karena aku terlalu indah, kau mematikanku. Mematikan rasa cintaku untuk orang lain agar aku terus mencintaimu meski kamu membenciku. Mematikan urat sayangku untuk orang lain, agar aku terus meyayangimu sekalipun tubuhku tak bisa lagi menahan luka darimu. Lalu aku menjadi mawar yang layu. Tak ada yang mendekatiku. Semua membenciku dan menghinaku. Bahkan aku sendiri tak bisa menyelamatkan diriku sendiri, karena jiwaku sudah kau ambil. Sekarang aku mawar yang mati. Mawar yang durinya sudah kau bawa pergi. Untuk melindungimu, agar kau tak merasa sakit tanpa aku. Hey, lihatlah dirimu sekarang. Tampak suci, bersih. Kau tampan, seperti dulu. Kau harum dan menawan. Gagah, berani, bagaikan pangeran dengan kuda poni yang berkelana mencari mawar baru untuk kau sia-siakan. Kembalilah kemari sebentar, kembalikan duriku. Kembalikan jiwaku yang kau bawa. Karena kau kembali untuk menghidupkan aku yang mati suri. All rights reserved® @tiffanirpb |