with love,
tiffani
|
who love you very much
|
with love,
tiffani |
|
h o m e moi
1998 -
credits.
| ❝ Rusak ❞
posted on May 29, 2014 @ 21:19 // 0 comment(s) |
Rusak
Ah, ternyata dahulu saat aku
kecil hidupku bahagia. Aku sesekali menangis karena diomeli ibuku, tapi aku
bahagia. Semakin besar aku mengerti apa itu kesedihan dan membuat definisi
kesedihan. Lalu membagi jenis-jenis kesedihan yang dirasakan orang. Sedih
karena cinta, pekerjaan, keluarga, bahkan sedih karena negaranya sendiri. Lalu
aku mengamati bagaimana orang-orang mengatasi kesedihannya. Sebagian berkarya,
beberapa merusak dirinya karena kesedihan yang mendalam. Sejujurnya bukan hanya
beberapa, tapi amat banyak.
Kembali kuseruput kopi yang tak
lagi berasap itu. Sendiri dalam sendu dipojok kafe yang tak begitu ramai ini.
Sembari melihat melalui jendela—raut muka orang-orang dijalan.
Kopiku sudah nyaris habis dan aku
masih menikmati kafe ini tanpa mengerjakan tugas. Apa? Tugas? Astaga, aku
kesini untuk mengerjakan tugas membuat cerpen dan sejak satu jam yang lalu aku
masih memandangi muka orang-orang asing yang berlalu-lalang di jalan. Sekarang
aku punya banyak sekali ide.
Banyak orang bilang aku sangat
cakap ketika menulis. Berdansa dengan kata dan kalimat, menyatukan berbagai hal
dari pandanganku kemudian menuangkannya dalam blog. Tapi aku tak merasa
demikian—kadang yang kutulis hanya seonggok sampah.
Aku menulis cerpen dengan opiniku
mengenai betapa rusaknya negeri ini. Negeri yang dulu dikenal
keramah-tamahannya, kejayaannya, kesantunannya dan kerja kerasnya. Dahulu, para
orang tua bekerja keras lebih dari sekarang dan anak-anak mereka belajar sangat
giat. Tak ada banyak masalah cinta, tak ada masalah korupsi, tak ada masalah
penyimpangan yang sudah dianggap lumrah
diera ini.
Tigapuluh menit aku berenang
dalam imajinasiku. Jemariku menari diatas keyboard
laptop tanpa henti. Seketika aku sadar kopiku habis. Makananku habis. Dan
itu berarti tenagaku untuk mencari ide dan berimajinasi sudah habis.
Aku beranjak dari sofa menuju
meja pesan. “Mas, americano ya, meja
nomor 2.”, kataku ringan. “Oke mbak
tunggu sebentar ya.”, balas pelayan itu cepat.
Sekarang aku duduk dan menulis
kembali. Sampai mana tadi? Oh, penyimpangan yang dianggap biasa dizaman yang
sudah gila ini. Aku kembali teringat cerita teman-teman dekatku. Pertama aku
mengenal mereka baik. Lebih dekat lagi aku mengenal mereka bisa gila-gilaan. Dan semakin dekat aku
mengerti kegilaan yang telah mereka lakukan. Mulai dari merokok, pergaulan yang
salah, pulang selalu larut malam dan kegilaan lain yang aku sendiri gila
mendengarnya.
Betapa rusaknya negeri ini.
Betapa kehilangannya negeri ini akan anak muda yang cerdas, penerus yang bijaksana
dan pemuda yang bertanggung jawab. Kini susah mencari orang yang dapat menjadi
teladan kami, para pelajar yang sedang mencari jati diri. Mencari arah kemana
akan pergi, mencari keadilan, mencari rasa aman dan nyaman. Kami begitu jauh, hilang
dan tenggelam dari norma baik yang dahulu membangun negeri besar ini.
“Permisi Mbak ini americano-nya. Silakan dinikmati.”, ujar
pelayan kafe itu sembari menaruh secangkir kopi diatas mejaku. Aku
mengacuhkannya. Sekarang jemariku kaku. Mataku pedih. Otakku berhenti
memikirkan tugasku. Aku hanya menyeruput kopiku, melihat lagi ke jalan dan
berfikir akan masa depanku. Aku tak ingin menjadi orang yang hina. Orang yang
mengaku bangga akan bangsanya tetapi merusak generasi mudanya.
Sekarang aku memikirkan
cita-citaku. Mungkin kau berfikir aku ingin menjadi pejabat yang tegas, guru
yang jujur atau menjadi seorang wanita kantoran yang giat. Tapi sayangnya
tidak. Pikiranku melayang begitu jauh hingga terhenti disuatu keadaan. Dimana
keinginanku adalah tidak menjadi rusak di negeriku sendiri. Aku harus belajar
segiat mungkin untuk meraih beasiswa. Untuk pergi dari negeri yang telah hancur
ini. Untuk membuat diriku kembali utuh dan baik. Beasiswa yang membuatku
tinggal di negeri yang jauh.---------------------------------------------- Yang diatas adalahhh tugas membuat cerpen.............BUAHAHAHAH All rights reserved® @tiffanirpb |