with love,
tiffani
|
who love you very much
|
with love,
tiffani |
|
h o m e moi
1998 -
credits.
| ❝ Refleksi 22 ❞
posted on Jan 23, 2015 @ 17:58 // 0 comment(s) |
Aku menyesap kopiku, sore itu, ditempat kita bertemu. Kau menyulut api, menghidupan sebatang rokok lalu dengan cepat menghisapnya. Aku menatap sorot mata gelisahmu, begitu pula kau yang menatap wanita berbaju putih itu. Yang sedang duduk diam membaca buku tebal. Memang, cantik dan anggun; mengalahkan waktu yang telah kukorbankan untuk menemanimu.
Kini aku memulai pembicaraan. Menyapa, bertanya dan mendengarkan. Kau masih sama, bercerita tak dengan sepenuh hati- ada yang ditutupi. Kini aku mengulang beberapa menit lalu; kau menghidupkan rokok kedua. Lalu ketika wanita itu beranjak dan pergi, kau tak lagi menatapnya. Kau melihatku. Nyaris sama seperti kau melihatnya. Nyaris; tak persis, tak sama. Kini kau yang kudamba kembali. Mulai memberikan perhatian penuh padaku yang sedari tadi teracuhkan. Kabarku, kesehatanku, ceritaku dan masalahku seolah milikmu juga. Aku menikmati perbincangan singkat sambil mengikutimu menghisap beberapa batang rokok. Seperti, merefleksikan dirimu yang tenang. Meski gagal menjiplak sorot mata gelisah itu. Kini kopi kami habis, begitupun sebungkus rokok. Kau beranjak dari sofa dan mengatakan bahwa hanya aku yang kau cinta, sampai mati. Kecupan kening itu mengakhiri pertemuan singkat dan sederhana. Aku masuk mobil meninggalkanmu di parkiran. Itu tak terjadi. Semuanya. Karena yang terjadi adalah: Aku menyesap kopiku, sore itu, ditempat kita bertemu terakhir kalinya. Ketika kau memaksaku bilang aku tak cinta padamu. Memaksaku membohongi diriku sendiri lalu pergi. |